Kapan aku akan mati??
Sebuah pertanyaan yang tidak ada haknya sama sekali ku jawab. Mungkin akan layak ketika ku sandingkan kata “mati” dengan kata “jika”. 78 menit hanya 2 deret angka yang terbesit ketika aku ingin menuliskan judul. Tidak ada makna dibaliknya. Kan sudah ku katakana tadi, aku akan menyandingkan kata “mati” dengan kata “jika”, jadi 78 menit itu juga otomatis tersandingkan dengan kata “jika”.
Jika aku hanya mempunyai waktu 78 menit dari saat aku menulis judul, berarti sekarang waktuku berkurang sekitar 3 menitan tanpa bisa ditahan. 75 menit lagi. Tadi jariku berhenti sejenak, mungkin sekitar 5 detik. Sekali lagi waktu tak bias ditahan. Ok, karena waktu begitu berkuasa dalam ruang yang ku huni, maka aku akan memulai mengetikkan beberapa kalimat yang mungkin bisa melegakan aku jika dalam 71 menit lagi aku tak berdaya untuk mengetik apapun. Aku mati.
Hidupku di dunia ini setahuku, disambut dengan sukacita oleh orang tuaku. Aku, anak pertama, buah komitmen mereka, terlahir dengan bobot yang sehat, tiga setengah kilogram. Begitu bulat dan gendut. Memang papaku tidak pernah menetapkan tuntutan pada mamaku untuk memberinya penerus keturunan. Laki-laki. Apapun jenis kelamin manusia yang dilahirkan mamaku, dia tidak protes sama sekali. Hanya syukur yang ku tahu terus dia panjatkan karena kata dokter aku lahir sehat.
Namun, seperti seorang ayah pada umumnya, papa tidak bisa menyembunyikan keinginannya menimang keturunan berjenis kelamin laki-laki. Caranya mendidikku menyiratkan sesuatu yang telah ku pahami sebelum aku tahu aku telah memahaminya. Aku paham sejak kanak-kanak arti tersembunyi didikan papaku. Dia mendidikku dengan caranya yang kadang terlihat tidak berperikemanusiaan. Menurutku, dia mendidikku seakan lupa aku anak perempuannya.
Dia sosok ayah yang penuh cinta, tapi dia tidak segan-segan mengulurkan tangannya dan meninggalkan bekas ikat pinggang di sekujur kaki dan tanganku. Filosofi pertama yang diajarkannya padaku, “jika ada pukulan, itu berarti ada kasih sayang darinya yang mengalir. Pukul berarti sayang”. Dengan pikiran bocahku, aku 100 persen tidak mengerti bahkan tidak terima ada pemahaman seperti itu. Tapi dengan rasa takut dan hormatku pada papa, aku tidak berani membantah. Belakangan baru ku mengerti seluruhnya perkataan papa pada saat itu. Lebih baik orang tua yang menghancurkan anaknya dari pada dunia yang menghancurkannya. Betapa sayangnya dia padaku ketika dia harus memukulku meski mungkin hatinya ikut terluka karena itu. Dia sayang makanya dia pukul, dia pukul karena dia tidak ingin aku lembek dan siap menghadapi kerasnya dunia. Dia benar-benar sayang padaku, itu yang aku tahu.
10 menit berlalu dari 78 menit sisa hidupku.
Seperti kebanyakan orang ketika diperhadapkan pada pertanyaan 78 menit ini, akupun akan sebisa mungkin memanfaatkan sisa waktuku sebaik-baiknya. Aku akan mencoba hal-hal yang belum pernah ku coba, aku akan mengucapkan kata sayang pada orang-orang yang jarang mendapatkan itu keluar dari mulutku, aku akan menyiapkan “warisan” untuk orang-orang yang kusayangi, aku akan memanfaatkan waktuku, aku tidak akan tidur. Tapi sepertinya 78 menit yang sudah terpotong itu tidaklah cukup untuk membungkus semuanya menjadi terwujud sebelum waktuku habis. Mungkin aku bisa mulai dengan keinginanku.
Aku pecinta kopi. Kopi hitam tanpa gula. Sahabat-sahabatku tahu itu. Tapi aku belum pernah mencoba kopi termahal di dunia. Kopi luwak. Kopi yang proses penghasilannya begitu menjijikan. Kopi dari biji kopi yang menempel pada tinja luwak, sejenis musang jawa. Harga 1 sendok bubuk kopinya bisa untuk uang muka kredit motor. Aku harus mendapatkannya sebelum hitungan mundurku menjadi nol. Tapi apakah semua orang yang telah mengetahui kapan waktunya mati dapat menikmati apa yang dia mau dengan pasti? Aku rasa tidak. Kopi luwak sudah membuka mataku sedikit. Meskipun aku tahu aku akan mati 60 menitan lagi, tapi hidup tetap berjalan pada porosnya. Tidak ada yang tiba-tiba bisa memanjakanku, termasuk Sang Pencipta. Aku, masih manusia yang belum berpenghasilan, jelas tidak mampu membeli kopi luwak yang harga satu cangkir kecilnya sama dengan uang bulanan yang ku terima dari mamaku. Hari ini tanggal 18, jadi tidak mungkin uang bulananku masih utuh. Jadi mungkin sampai 78 menit hitungan mundur ini, aku tidak akan pernah merasakan nikmatnya kopi luwak. Satu keinginanku tidak terkabul.
Karena kopi luwak, aku kembali memutar otak mencari apa keinginanku selanjutnya.
Mungkin aku ingin bertemu sahabat-sahabatku. Tapi sekali lagi aku disentil. Jarakku dengan mereka bermil-mil jauhnya. Sekalipun aku punya uang yang cukup untuk naik pesawat sekarang juga, tapi sisa waktu yang tidak sampai 1 jam ini pasti menang menantang keinginanku.
Apa yang bisa ku wujudkan dalam sisa 50 menit ini? Ayolah, pikirkan, apa lagi yang ku inginkan di ujung hidupku? Mungkin kau berpikir aku orang pesimis, pasrah, monoton, yang tidak punya proyeksi keingina, cita-cita, impian, atau apalah namanya. Ku beri tau, aku punya banyak. Sangat banyak. Tapi 49 menit menghimpit otakku untuk berpikir apa yang masih mungkin ku nikmati. Mungkin aku harus menyesuaikan segalanya dengan posisi dan keuanganku saat ini. Akan ku coba dengan sesuatu yang sederhana.
Jika kopi luwak tidak berjodoh denganku, mungkin aku bisa menggantinya dengan kopi lain. Kapal api misalnya. Ok, aku akan berhenti sejenak untuk menyeduh kopi kapal api….
3 menit berlalu untuk menyeduh. Komposisi yang masih sama, kopi hitam tanpa gula. Kapal api yang kuseduh tanpa di temani gula terasa begitu pekat dimataku. Apakah ini gambaran sisa 46 menitku? Hampir tidak ada keinginanku yang bisa terwujud tanpa harus dimodifikasi. Ironis, kopi luwak harus rela diambil posisinya oleh kopi kapal api.
Bertemu sahabat-sahabatku. Aku melupakan sesuatu. Aku sekarang sudah dikelilingi sahabat-sahabatku. Jadi aku anggap ini misi yang berhasil. Hanya tinggal beberapa yang tidak disisiku, mungkin bisa dengan menelepon saja. Tunggu sebentar, aku akan melakukan hubungan langsung jarak jauh.
Lumayan lama aku menghabiskan waktu di keinginan ini. 15 menit untuk 2 sahabatku. Astaga, tinggal 30 menit lagi waktuku. Tulisan ini saja belum selesai. Keinginanku baru dua yang terpenuhi walau dengan modifikasi dimana-mana.
Mungkin aku akan menghabiskan sisa waktuku dengan menuliskan segala yang ku sesali dalam perjalananku.
Aku menyesal menghabiskan sisa 78 menitku dengan mengetik. Kenapa tidak ku pakai saja untuk menghayal atau tidur sekalian. Mungkin dengan begitu keinginanku bisa terwujud meski dalam mimpi.
Aku menyesal tidak menabung dari kecil. Mungkin jika aku rajin menabung, minimal aku bisa mengecap sedikit kopi luwak.
Aku menyesal telah dengan gampangnya menuliskan 78 menit untuk sisa waktuku. Kenapa tidak 78 hari? Bahkan 78 jam mungkin bisa sedikit membantu.
Aku menyesal telah menjatuhkan pilihanku pada topik ini. Sangat menguras emosi, tenaga, dan pikiranku. Sungguh tulisan yang begitu susah kuselesaikan. Harusnya aku menyelesaikan tulisanku tidak bertele-tele seperti ini. Aku jadi membuang menit-menitku.
Aku menyesal merasa tertarik dengan cerita sahabatku tentang kematian. Imajinasiku tak bisa ditahan dengan topik yang memang sudah membuatku tertarik dari aku masih belum gemar menulis. Jika mungkin aku tertarik topik kehidupan, tulisan ini akan berbau daun dan musim panas. Akan tersusun dengan kata-kata yang positif dan bersemangat.
Aku menyesal telah memupuk sesuatu yang dulunya tidak pernah kunikmati. Aku menyesal telah membiasakan diri menulis. Harusnya aku tetap dengan menjadi penikmat tulisan saja. Jadi pembaca saja. Dengan begitu kan aku tidak perlu merasa tertantang untuk menuliskan topik yang menguras emosi ini.
Aku menyesal berusaha hidup sesuai norma. Jika saja aku tetap dengan kenakalan masa remajaku dulu, mungkin aku tidak akan menjalani hidup dengan penuh pemikiran sia-sia seperti ini. Toh semua manusia akan mati. Jadi apa bedanya?
Aku menyesal memilih kuliah di Satya Wacana. Apalagi aku masih terjebak di fakultas yang semakin hari semakin asing buatku. Karena aku tertekan dengan segala pengajaran yang ku terima, aku lalu melampiaskan semuanya pada tulisan. Dan hasilnya? Aku terjebak pada sesuatu yang baru. Menulis. Jika mungkin pilihanku jatuh pada program studi yang berbeda, mungkin tulisaku tidak akan sampai pada topik ini. Topik yang suram dan menyiratkan keputusasaan penulisnya terhadap hidup.
Aku menyesal menjatuhkan pilihanku pada sekolah berasrama. Mungkin jika aku tidak kesana,tidak akan pernah lagi aku dekat dengan teman masa kecilku. Ya, dialah tokoh sentral yang sangat mempengaruhi seluruh kegemaranku menulis. Segala sesuatu dimulai pada saat aku mengagumi segala karyanya. Aku belajar berimajinasi, aku belajar bertutur beda, aku belajar menjadi kreatif, aku belajar menuangkan segalanya dalam sebuah tulisan. Dan kau pasti bisa menebak kenapa aku menyesal. Semuanya membawaku pada kenyataan aku menulis apa yang sementara ku tulis sekarang.
Oh, 20 menit ternyata berjalan begitu cepat. Waktuku hanya 10 menit lagi. Padahal masih banyak penyesalan yang ingin ku tuangkan. Lihat, bahkan untuk menulis penyesalanpun waktuku tak cukup. 10 menit mungkin cukup untuk menghentikan tulisanku, menutup jendela word yang kugunakan, menekan tombol ALT bersamaan dengan tombol F4 di keyboard laptop pinjaman ini, dan mengklik shut down pada jendela pilihan yang muncul.
Selanjutnya apa? Apakah aku harus berbaring? Atau duduk? Bagaimana bagusnya posisiku menjelang ajal? Ah, aku ingat sekarang, ternyata belum ada satu katapun ku tulis sebagai surat wasiat. Jika begitu, mungkin aku benar-benar harus berhenti disini agar aku bisa memakai 5 menit sisa waktuku untuk menulis surat wasiat.
Tapi sejujurnya aku belum puas dengan ending surat wasiat itu. Sungguh sia-sia aku menulis begitu panjang hanya dengan ending yang sangat tidak megah sama sekali. Tapi bagaimana ya, waktuku tak akan cukup. Apa yang harus ku lakukan?
…
…
…
Aku tahu! Aku melupakan kata jika dalam tulisan ini. Akukan belum tentu mati 3 menit lagi. Hahahaha… Aku bukan Tuhan yang bisa mengijinkan malaikat maut mengambil hidup seseorang. Ini hanya imajinasiku. Hanya kepaksaanku menulis topik yang sebenarnya terasa begitu menakutkan pada waktu aku memulainya. Aku penasaran, kemanakah aku bisa membawa ketikan jari-jariku menyelesaikan topik menarik ini.
3 menit telah lewat. Itu berarti 78 menit sisa waktuku telah habis. Tapi aku belum mati. Aku masih melanjutkan ketikanku. Aku belum berhenti. Ceritaku belum tamat. Aku hanya sedikit tersadar bahwa selama apapun sisa waktu hidupku, aku sama sekali tidak punya hak untuk menentukan dimana ujungnya. Aku hanya pelakon yang tidak bisa memilih kapan aku dimulai dan kapan aku diakhiri. Aku tidak bisa memilih di rahim siapa aku lahir dan kapan. Aku juga tak kuasa dengan ketiba-tibaan sang maut menjemputku. Aku hanya bisa hidup, hanya bisa memilih, tentunya selain lahir dan matiku. Menulis ini pun pilihanku. Aku memilih sedikit berani menyentuh kuasa sang empunya hidup. Dan kata “jika” menolongku dua kali. Saat aku akan memulai dan pada waktu aku harus mengakhiri.
Semua ini hanya sebuah “jika” yang aku pilih dan coba jalani. Semua “jika” yang pastinya tidak akan menjadi sesuatu yang sudah pasti. Aku ada sekarang hanya karena semua “jika” yang kutuliskan tadi tatap menjadi jika dan tidak berubah nyata.
Akhirnya aku menghakhiri tulisanku dengan kata jika.
