Mar 28, 2010 - hidup, sahabat    1 Comment

aku, kita, dan perbedaan

Aku dan dia sangat berbeda. Aku suka film drama,dia suka film horor. Aku suka jeroan, dia sangat tidak suka. Aku suka kaos oblong, dia lebih suka blus. Aku terampil bersepeda, dia terampil mengemudikan mobil. Dia suka kecap, aku tidak terlalu suka. Aku suka memotret, dia suka dipotret. Aku bisa dengan ketidakteraturan, dia suka teratur. Aku suka Bon Jovi, dia suka Beyonce. Aku suka warna hijau, dia suka warna hitam. Dia putri seorang perempuan tanah batak, aku tak ada campuran lain selain keturunan perempuan tanah Toar Lumimuut. Tapi kami bukan musuh, apalagi berperang. Tidak saling menikam,apalagi sampai saling membunuh. Tidak bersengketa, apalagi bertikai. Kita bersahabat.

Aku dan dia sangat berbeda. Aku suka Jepang, dia suka Mandarin. Aku suka asin, dia suka manis. Aku suka Jazz, dia sangat tidak bisa menikmati jenis musik itu. Aku suka bad ending, dia pecinta happy ending. Aku selalu cuek, dia selalu ribet. Dia suka bertutur, aku suka menulis. Dia tidak suka sendiri, aku penyendiri. Dia sangat cepat kaget, aku begitu susah dikagetkan. Aku suka yang norak, dia suka yang klasik. Dia berdarah tionghoa, aku orang minahasa. Tapi kami bukan musuh, apalagi berperang. Tidak saling menikam,apalagi sampai saling membunuh. Tidak bersengketa, apalagi bertikai. Kita bersahabat.

Aku dan dia sangat berbeda. Aku suka kopi, dia suka susu. Aku selalu dijauhi anak-anak, dia selalu sangat gampang berdekatan dengan mereka. Aku suka balon, dia sangat takut balon. Dia suka cordon blue, aku suka ribs. Aku suka ronde, dia bisa muntah hanya dengan mendengar kata itu. Dia fans berat Slank, aku sangat mengagumi Iwan Fals. Dia anak suku Tonsea, aku bagian suku Toulour. Tapi kami bukan musuh, apalagi berperang. Tidak saling menikam,apalagi sampai saling membunuh. Tidak bersengketa, apalagi bertikai. Kita bersahabat.

Aku dan dia sangat berbeda. Aku suka sayur, dia pecinta daging yang tidak makan sayur. Aku cinta bahasa Indonesia, dia pengguna aktif bahasa Inggris. Dia suka The Reds, aku tetap setia dengan Red Devil. Dia memiliki ingatan fotografi, aku pelupa akut. Dia terikat dengan dunia kesehatan tapi menghabiskan waktu-waktunya dengan ilmu komputer dasar, aku mahasiswa berdisiplin ilmu komputer tapi menghabiskan waktu dengan membaca apa saja. Dia penduduk bagian barat, aku penduduk bagian timur. Tapi kami bukan musuh, apalagi berperang. Tidak saling menikam,apalagi sampai saling membunuh. Tidak bersengketa, apalagi bertikai. Kita bersahabat.

***

Kami berbeda. Aku dan dia tidak sama. Dia dan aku bersebrangan.
Tapi kami sama. Aku, dia, dan kita saling sayang. Aku, dia, dan kita berdiri di bawah merah putih. Aku, dia, dan kita (kebetulan) menyembah Tuhan yang sama. Aku, dia, dan kita terikat satu hubungan (tanpa) darah. Aku, dia, dan kita makhluk yang disebut manusia.

Kami sama, karena kami mencintai perbedaan sekaligus menaklukkannya.
Kami sama, karena mendirikan persahabatan di atas fondasi perbedaan.
Kami sama, karena Sang Tuhan yang menciptakan kami, sama.

Aku hanya berharap: aku, dia, dan kita tetap sama dan tetap beda. Tetap menjadi kami.

.’. Dengan segala terima kasih yang jarang terucap, kapada mereka yang masih berada di samping. Entah sampai kapan, tapi semoga selamanya. Tiga kata itu tidak terlalu perlu lagi tercantum di sini.

beda

Mar 28, 2010 - hidup    Comments Off

Marah

Lebih kejam mana: orang yang karena tidak suka, kemudian marah terang-terangan, meluapkan emosi, berteriak, mengumpat, mengamcam, memaki, akhirnya terbentang jurang dan hubungan menjadi buruk, ATAU, orang yang karena tidak suka, kemudian diam, santai, masih bisa tersenyum bahkan tertawa, tidak marah apalagi berteriak, tidak mengancam hanya sedikit mengumpat, tidak memaki apalagi mencemooh, tetapi setelah itu menganggap orang yang menyebabkan masalah tidak pernah ada di dunia ini, tidak menganggap dia masih manusia, tidak memperhitungkannya lagi sebagai sesama makhluk penghuni bumi, bahkan akhirnya melupakan wajahnya karena memang tidak ada satupun lekuk wajah yang bersedia tertampung di otak, dan tak tertahankan, jurangpun terbentang dengan sendirinya sehingga hubungan menjadi tidak kalah buruknya? Silahkan pilih sendiri.

Marah. Seperti pedang bermata dua, apapun sikap yang dipilih, pasti ada yang akan terluka. Entah tangan sendiri, atau orang lain, atau dua-duanya. Buah simalakama, dimakan ayah mati, tidak dimakan ibu mati. Ketika biasanya daerah “abu-abu” akan dicap plin-plan, setengah-setengah, tidak konsisten, tidak berani memilih, tidak demikian dengan hal marah. Daerah “abu-abu” akan sangat berguna jika ada yang mampu memilihnya. Marah tapi tidak berlebihan, dan kemudian melupakan tanpa menyisakan benci apalagi dendam. Opsi yang hampir tidak ingin dipilih, paling susah dilaksanakan, dan paling sedikit tingkat keberhasilannya meski sudah ada yang mau memilih. Opsi jalan tengah yang selain memerlukan modal kekuatan mental dan jiwa yang sehat, juga membutuhkan jantung yang kuat. Satu lagi, tidak ada jaminan keberhasilan pada opsi tersebut.

Tapi, dimanakah sikap yang tepat untuk marah? Pilihan selalu terjulur meski tidak sedikit manusia yang ngotot bahwa tidak ada lagi pilihan. Marah, sikapkah atau sifatkah yang harusnya berkuasa? Tidak marah: bodoh, marah: tidak dewasa. Sama-sama jelek ternyata. Tidak marah: bijaksana, marah: wajar jika sudah sepantasnya dan pada saat yang tepat. Sama-sama indah ternyata. Bagaimana jika dibalik dan dicampur? Tidak marah:bodoh, marah: wajar jika sudah sepantasnya dan pada saat yang tepat. Marah menang. Kalau begini? Tidak marah: bijaksana, marah: tidak dewasa. Tidak marah menang. Lantas, kapankah saat yang tepat? Dimanakah tempat yang baik? Kepada siapakah kepantasan itu berbuahkan kemenangan?

Karena marah langsung menghujam jantung, karena marah langsung membuat aliran darah ke otak menjadi tidak normal, karena marah membutuhkan pelampiasan, karena marah, seperti juga cinta, tidak akan tertebak dengan mudah kapan akan menyapa meski kriteria telah ditetapkan, karena marah adalah pahit yang harus melengkapi manisnya kedamaian, karena marah memang ada karena “ke-dua-sisi-an” kehidupan.

Marah, seperti hidup, adalah sebuah pilihan. Marahlah, dan tidak marahlah. Tak ada yang nihil resiko, maka jalanilah. Hidup dituntut seimbang. Hanya masalah prediksi waktu agar segala keseimbangan yang terjadi adalah kemenangan.

Ketika kita bisa menemukan saat yang tepat, saat itulah kita berpeluang menang. Namun, ketidaktepatan tidak mengakhiri hidup, hanya membuatnya sedikit berputar dan lebih lama tiba ditempat tujuan.

ysweku, sl3_250110

Mar 28, 2010 - hidup    1 Comment

tuhan

Katamu dunia ini milikmu.
Katamu juga kau yang menciptakanku.
Katamu lagi, iblis adalah seteruku sedang kau sahabatku.
Setidaknya itu yang selalu ku dengar ditiap khotbah membosankan yang diteriakkan oleh orang-orang yang katanya telah berjumpa langsung denganmu.

Mereka selalu berkata-kata yang indah untuk menggambarkan wujudmu.
Ah, aku keliru, tidak ada dari mereka yang bisa menggambarkan dengan baik wujudmu sesungguhnya
Tak ada satupun!
Sekalipun aku selalu terpesona dengan kata-kata indah mereka, eforia itu tak pernah terlalu lama bersarang di tubuhku.
Aku padamu selalu begitu, tak pernah bertahan lama.
Sekarang aku cinta setengah mati, tiga hari lagi, aku seakan tak pernah mengenalmu.
Sekarang aku sok suci, detik berikutnya aku bisa jadi manusia paling brengsek tak tangung-tanggung.

Aku tahu, kau pasti bosan denganku tuhan, jangan bohong!
kau pasti menyesal telah menciptakanku.
Prediksimu pasti meleset jauh.
Aku bahkan tak bisa menjelaskan pada saudara-saudaraku yang menyembahmu dengan cara yang berbeda, kenapa kau menganut paham TRITUNGGAL, three in one dalam bahasa jaman sekarang.

Bahkan imanku tak pernah sebesar butir pasir di pantai ciptaanmu itu.

Tapi jangan kau buru-buru melemparku ke neraka, kompor abadi itu.
Meski imanku semikro itu, cobalah kau lindas aku dengan kaki gajah!
Aku jamin aku tak akan hancur.
Kalau masih tidak puas, coba giling aku dengan penghancur sampah-sampah daur ulang!
Kau akan temukan aku di ujung dengan segala tawa kemenangan karena alat itupun tak mampu menghancurkanku.
Atau mungkin kau masih ingin mengujiku dengan api neraka?
Cobalah tuhan, karena aku tahan bakar, kau tahu itu.
Aku akan semakin berkilap dengan api ciptaanmu yang tak kalah panas dengan inti bumi.

Ya, sekecil itulah imanku padamu.
Sedebu itulah aku padamu.

Apa kau kecewa tuhan? Ku harap tidak.

Meski aku tak bisa memberimu buah karena aku memang bukan bibit apalagi tunas,
Meski aku tak bisa bertumbuh lebat kerena aku bukan rumput apalagi pohon,
Tapi aku tak bisa ditebang,
Aku tak bisa dihancurkan.

Dan kau tahu tuhan, menurutku, aku masih bisa berguna untuk beberapa hal, mungkin.

Kau bisa meleburku dengan semen dan menjadikanku sebuah rumah.
Kau juga bisa menghanyutkanku bersama titik pasir yang lain dan jadilah kami samudera.
Atau kau lebih suka menaruhku di telapak tanganmu?
Agar nanti ketika si raja iblis membuatmu jengkel, kau bisa meniupku tepat di depan matanya, dan jatuhlah dia sempoyongan, kewalahan beberapa saat, mengusap-usap matanya mencoba mengeluarkanku sampai air matanya tak mau berhenti mengalir, bahkan harus meminta anak buahnya meniup matanya dengan bau mulut yang busuk, tidak hanya satu tapi dua, sementara aku semakin tenggelam disudut terdalam matanya, menimbulkan gatal dan perih bersamaan yang tidak salah lagi pasti sangat menyiksanya.

Dan kau? tentu saja terbahak menyaksikan itu.
Kau sebut itu hiburan bagimu yang katanya selalu sibuk mengurusi miliyaran makhluk ciptaanmu.
Kau tinggal pilih saja tuhan.

Tapi tolong, beri tahu aku satu hal!
Apa bentukku sekarang tuhan?

Sebuah bangunan tidak.
Sebentuk samudera apalagi.

Dan kau, masih saja cemberut karena si raja iblis masih menguasai gelak tawa yang berpeluang merusak gendang telinga itu?

Begini saja, sepertinya aku bisa memberimu sedikit saran.

Mungkin kau harus sedikit belajar tertawa tuhan.
Jalanilah hidup yang kau ciptakan ini dengan santai.
Jangalah terlalu serius tuhan.
Dengan begitu siapa tahu kau bisa secepatnya memutuskan akan kau apakan imanku yang tak lebih besar dari pasir di pantai ini.
setidaknya, beri aku petujuk, sekecil apapun itu.

Akan kau jadikan rumah, lebih bagus lagi jika gereja, mungkin?
Atau sebentuk samudera, lebih bagus lagi jika bersama benuanya?
Ataukah kau akan memilih bagian yang paling ku sukai?
Membenamkanku ke dalam mata si raja iblis itu, lebih bagus lagi jika kau memasukkanku ke hidungnya agar dia tak berhenti bersin seperti orang yang baru saja kena flu.

Tinggal kau pilih tuhan, satu saja!

Karena aku bosan tuhan.
Aku bosan hanya diterbangkan angin kesana kemari yang membuatku semakin lama semakin jauh darimu.

Ayolah tuhan, pilihlah salah satu!
Aku semakin jauh, kau tahu?
Cepatlah tuhan!

Dan jangan sekali-kali beralasan kau terlalu sibuk tuhan.
gunakanlah kemahakuasaanmu!
Dan pilihlah salah satu!
Ayolah tuhan…

ysweku, sl3_261209

Dec 12, 2009 - sahabat    1 Comment

Pembusukan Persahabatan

Ada pertanyaan yang saat ini lumayan menggangguku. Hal apa sebenarnya yang bisa membuat persahabatan menjadi memburuk dan bahkan mati? Pengkhianatan? Kebohongan? Ku rasa tidak selalu seperti itu. Pengkhianatan dan kebohongan tidak selalu berhasil mematikan sebuah hubungan. Kata maaf dan air mata hampir selalu berhasil menyelamatkan persahabatan dari sapaan khianat dan dusta.

Hal yang biasa terjadi ya? Tapi bagaimana jika sebuah persahabatan perlahan-lahan membusuk tanpa bersentuhan dengan khianat dan dusta? Tanpa perselisihan, tanpa adu mulut, tanpa masalah bahkan. Bingung? Maksudku, tanpa ada hal konkrit yang bisa disebut konflik, sebuah persahabatan terlihat mulai membusuk.

Eratnya sebuah hubungan pada masa lalu sering kalah dengan kikisan ruang dan waktu pada saat ini. Kenangan indah yang terlewati pada masa lalu kadang menjadi buram dengan sengatan kesibukan dan individualisme. Bahkan perasaan sayang dan peduli pada masa lalu selalu begitu mudahnya terhapus dengan sebuah keterlanjuran. Terlanjur jauh, terlanjur malu, terlanjur lama, terlanjur terpisah, terlanjur mendapat sahabat baru, terlanjur kehilangan kontak, terlanjur diam terlalu lama, dan terlanjur-terlanjur lainnya yang siap dilontarkan ketika ada yang bertanya mengapa.

Apakah sosok yang disebut sahabat harus selalu tahu cerita hidup sahabatnya? Jika tidak, masih pantaskah sosok itu disebut sahabat? Persahabatan bersyarat. Jika seorang sahabat tak bersua bertahun-tahun, masihkah dia dipanggil sahabat? Persahabatan bersyarat. Pada saat sahabat merahasiakan sesuatu, masih adakah kesudian memanggilnya sahabat? Persahabatan bersyarat. Ketika sahabat seakan tak paham sebuah maksud, tetapkah perjalanan dilanjutkan? Persahabatan bersyarat.

Banyak sekali ternyata syarat yang menempel pada kata itu. Setiap orang sepertinya memiliki syarat sendiri-sendiri. Sahabat ideal. Kenapa ya begitu komersial terdengar ditelingaku? Sahabat menjadi seperti barang dagangan. Idealisme diterapkan dalam persahabatan. Batasan terbentang ditengah. Jika sebuah barang dagangan tidak bisa memilih pembelinya, hubungan satu arah berlaku disitu. Ideal bisa digunakan. Lalu bagaimana dengan persahabatan? Apakah hubungan dua arah bisa bertahan dengan idealisme yang diberlakukan masing-masing individu?

Jadi, bagaimana sebenarnya persahabatan itu dapat dijelaskan? Lalu bagaimana menjawab pertanyaanku tadi? Ke-ironis-an tentang membusuknya sebuah persahabatan. Kesalahan besar dapat dimaafkan bahkan dengan mudahnya, tetapi “ke-tanpa-an” ternyata bisa membunuh persahabatan secara perlahan dan pasti.

Namun jika memang persahabatan se-unik itu, sepertinya aku masih optimis dengan buah yang unik juga. Mungkin memang harus dibiarkan busuk dahulu agar lebih bisa dinikmati. Kalau setengah busuk pastinya tak akan sedap dicicipi. Jangan buru-buru dibuang ke tong sampah jika kita merasa persahabatan yang dijalani mulai membusuk. Tunggulah sedikit lagi sampai benar-benar busuk. Sesuatu yang baru akan terlahir dan mungkin lebih indah dari sebelumnya. Aku selalu menganggap sebuah proses persahabatan tidak pernah ada ujungnya. Jadi mungkin aku tidak akan takut menunggu terlalu lama jika prosesku membutuhkan pembusukan.

Ternyata memang unik, persahabatan, busukpun tetap bisa dinikmati. Jangan tunggu busuk jika tidak, dan jangan buang dulu jika mulai busuk.

almost y's

Nov 21, 2009 - hidup    2 Comments

78 menit lagi aku mati [jika]

Kapan aku akan mati??

Sebuah pertanyaan yang tidak ada haknya sama sekali ku jawab. Mungkin akan layak ketika ku sandingkan kata “mati” dengan kata “jika”. 78 menit hanya 2 deret angka yang terbesit ketika aku ingin menuliskan judul. Tidak ada makna dibaliknya. Kan sudah ku katakana tadi, aku akan menyandingkan kata “mati” dengan kata “jika”, jadi 78 menit itu juga otomatis tersandingkan dengan kata “jika”.

Jika aku hanya mempunyai waktu 78 menit dari saat aku menulis judul, berarti sekarang waktuku berkurang sekitar 3 menitan tanpa bisa ditahan. 75 menit lagi. Tadi jariku berhenti sejenak, mungkin sekitar 5 detik. Sekali lagi waktu tak bias ditahan. Ok, karena waktu begitu berkuasa dalam ruang yang ku huni, maka aku akan memulai mengetikkan beberapa kalimat yang mungkin bisa melegakan aku jika dalam 71 menit lagi aku tak berdaya untuk mengetik apapun. Aku mati.

Hidupku di dunia ini setahuku, disambut dengan sukacita oleh orang tuaku. Aku, anak pertama, buah komitmen mereka, terlahir dengan bobot yang sehat, tiga setengah kilogram. Begitu bulat dan gendut. Memang papaku tidak pernah menetapkan tuntutan pada mamaku untuk memberinya penerus keturunan. Laki-laki. Apapun jenis kelamin manusia yang dilahirkan mamaku, dia tidak protes sama sekali. Hanya syukur yang ku tahu terus dia panjatkan karena kata dokter aku lahir sehat.

Namun, seperti seorang ayah pada umumnya, papa tidak bisa menyembunyikan keinginannya menimang keturunan berjenis kelamin laki-laki. Caranya mendidikku menyiratkan sesuatu yang telah ku pahami sebelum aku tahu aku telah memahaminya. Aku paham sejak kanak-kanak arti tersembunyi didikan papaku. Dia mendidikku dengan caranya yang kadang terlihat tidak berperikemanusiaan. Menurutku, dia mendidikku seakan lupa aku anak perempuannya.

Dia sosok ayah yang penuh cinta, tapi dia tidak segan-segan mengulurkan tangannya dan meninggalkan bekas ikat pinggang di sekujur kaki dan tanganku. Filosofi pertama yang diajarkannya padaku, “jika ada pukulan, itu berarti ada kasih sayang darinya yang mengalir. Pukul berarti sayang”. Dengan pikiran bocahku, aku 100 persen tidak mengerti bahkan tidak terima ada pemahaman seperti itu. Tapi dengan rasa takut dan hormatku pada papa, aku tidak berani membantah. Belakangan baru ku mengerti seluruhnya perkataan papa pada saat itu. Lebih baik orang tua yang menghancurkan anaknya dari pada dunia yang menghancurkannya. Betapa sayangnya dia padaku ketika dia harus memukulku meski mungkin hatinya ikut terluka karena itu. Dia sayang makanya dia pukul, dia pukul karena dia tidak ingin aku lembek dan siap menghadapi kerasnya dunia. Dia benar-benar sayang padaku, itu yang aku tahu.

10 menit berlalu dari 78 menit sisa hidupku.

Seperti kebanyakan orang ketika diperhadapkan pada pertanyaan 78 menit ini, akupun akan sebisa mungkin memanfaatkan sisa waktuku sebaik-baiknya. Aku akan mencoba hal-hal yang belum pernah ku coba, aku akan mengucapkan kata sayang pada orang-orang yang jarang mendapatkan itu keluar dari mulutku, aku akan menyiapkan “warisan” untuk orang-orang yang kusayangi, aku akan memanfaatkan waktuku, aku tidak akan tidur. Tapi sepertinya 78 menit yang sudah terpotong itu tidaklah cukup untuk membungkus semuanya menjadi terwujud sebelum waktuku habis. Mungkin aku bisa mulai dengan keinginanku.

Aku pecinta kopi. Kopi hitam tanpa gula. Sahabat-sahabatku tahu itu. Tapi aku belum pernah mencoba kopi termahal di dunia. Kopi luwak. Kopi yang proses penghasilannya begitu menjijikan. Kopi dari biji kopi yang menempel pada tinja luwak, sejenis musang jawa. Harga 1 sendok bubuk kopinya bisa untuk uang muka kredit motor. Aku harus mendapatkannya sebelum hitungan mundurku menjadi nol. Tapi apakah semua orang yang telah mengetahui kapan waktunya mati dapat menikmati apa yang dia mau dengan pasti? Aku rasa tidak. Kopi luwak sudah membuka mataku sedikit. Meskipun aku tahu aku akan mati 60 menitan lagi, tapi hidup tetap berjalan pada porosnya. Tidak ada yang tiba-tiba bisa memanjakanku, termasuk Sang Pencipta. Aku, masih manusia yang belum berpenghasilan, jelas tidak mampu membeli kopi luwak yang harga satu cangkir kecilnya sama dengan uang bulanan yang ku terima dari mamaku. Hari ini tanggal 18, jadi tidak mungkin uang bulananku masih utuh. Jadi mungkin sampai 78 menit hitungan mundur ini, aku tidak akan pernah merasakan nikmatnya kopi luwak. Satu keinginanku tidak terkabul.

Karena kopi luwak, aku kembali memutar otak mencari apa keinginanku selanjutnya.

Mungkin aku ingin bertemu sahabat-sahabatku. Tapi sekali lagi aku disentil. Jarakku dengan mereka bermil-mil jauhnya. Sekalipun aku punya uang yang cukup untuk naik pesawat sekarang juga, tapi sisa waktu yang tidak sampai 1 jam ini pasti menang menantang keinginanku.

Apa yang bisa ku wujudkan dalam sisa 50 menit ini? Ayolah, pikirkan, apa lagi yang ku inginkan di ujung hidupku? Mungkin kau berpikir aku orang pesimis, pasrah, monoton, yang tidak punya proyeksi keingina, cita-cita, impian, atau apalah namanya. Ku beri tau, aku punya banyak. Sangat banyak. Tapi 49 menit menghimpit otakku untuk berpikir apa yang masih mungkin ku nikmati. Mungkin aku harus menyesuaikan segalanya dengan posisi dan keuanganku saat ini. Akan ku coba dengan sesuatu yang sederhana.

Jika kopi luwak tidak berjodoh denganku, mungkin aku bisa menggantinya dengan kopi lain. Kapal api misalnya. Ok, aku akan berhenti sejenak untuk menyeduh kopi kapal api….

3 menit berlalu untuk menyeduh. Komposisi yang masih sama, kopi hitam tanpa gula. Kapal api yang kuseduh tanpa di temani gula terasa begitu pekat dimataku. Apakah ini gambaran sisa 46 menitku? Hampir tidak ada keinginanku yang bisa terwujud tanpa harus dimodifikasi. Ironis, kopi luwak harus rela diambil posisinya oleh kopi kapal api.

Bertemu sahabat-sahabatku. Aku melupakan sesuatu. Aku sekarang sudah dikelilingi sahabat-sahabatku. Jadi aku anggap ini misi yang berhasil. Hanya tinggal beberapa yang tidak disisiku, mungkin bisa dengan menelepon saja. Tunggu sebentar, aku akan melakukan hubungan langsung jarak jauh.

Lumayan lama aku menghabiskan waktu di keinginan ini. 15 menit untuk 2 sahabatku. Astaga, tinggal 30 menit lagi waktuku. Tulisan ini saja belum selesai. Keinginanku baru dua yang terpenuhi walau dengan modifikasi dimana-mana.

Mungkin aku akan menghabiskan sisa waktuku dengan menuliskan segala yang ku sesali dalam perjalananku.

Aku menyesal menghabiskan sisa 78 menitku dengan mengetik. Kenapa tidak ku pakai saja untuk menghayal atau tidur sekalian. Mungkin dengan begitu keinginanku bisa terwujud meski dalam mimpi.

Aku menyesal tidak menabung dari kecil. Mungkin jika aku rajin menabung, minimal aku bisa mengecap sedikit kopi luwak.

Aku menyesal telah dengan gampangnya menuliskan 78 menit untuk sisa waktuku. Kenapa tidak 78 hari? Bahkan 78 jam mungkin bisa sedikit membantu.

Aku menyesal telah menjatuhkan pilihanku pada topik ini. Sangat menguras emosi, tenaga, dan pikiranku. Sungguh tulisan yang begitu susah kuselesaikan. Harusnya aku menyelesaikan tulisanku tidak bertele-tele seperti ini. Aku jadi membuang menit-menitku.

Aku menyesal merasa tertarik dengan cerita sahabatku tentang kematian. Imajinasiku tak bisa ditahan dengan topik yang memang sudah membuatku tertarik dari aku masih belum gemar menulis. Jika mungkin aku tertarik topik kehidupan, tulisan ini akan berbau daun dan musim panas. Akan tersusun dengan kata-kata yang positif dan bersemangat.

Aku menyesal telah memupuk sesuatu yang dulunya tidak pernah kunikmati. Aku menyesal telah membiasakan diri menulis. Harusnya aku tetap dengan menjadi penikmat tulisan saja. Jadi pembaca saja. Dengan begitu kan aku tidak perlu merasa tertantang untuk menuliskan topik yang menguras emosi ini.

Aku menyesal berusaha hidup sesuai norma. Jika saja aku tetap dengan kenakalan masa remajaku dulu, mungkin aku tidak akan menjalani hidup dengan penuh pemikiran sia-sia seperti ini. Toh semua manusia akan mati. Jadi apa bedanya?

Aku menyesal memilih kuliah di Satya Wacana. Apalagi aku masih terjebak di fakultas yang semakin hari semakin asing buatku. Karena aku tertekan dengan segala pengajaran yang ku terima, aku lalu melampiaskan semuanya pada tulisan. Dan hasilnya? Aku terjebak pada sesuatu yang baru. Menulis. Jika mungkin pilihanku jatuh pada program studi yang berbeda, mungkin tulisaku tidak akan sampai pada topik ini. Topik yang suram dan menyiratkan keputusasaan penulisnya terhadap hidup.

Aku menyesal menjatuhkan pilihanku pada sekolah berasrama. Mungkin jika aku tidak kesana,tidak akan pernah lagi aku dekat dengan teman masa kecilku. Ya, dialah tokoh sentral yang sangat mempengaruhi seluruh kegemaranku menulis. Segala sesuatu dimulai pada saat aku mengagumi segala karyanya. Aku belajar berimajinasi, aku belajar bertutur beda, aku belajar menjadi kreatif, aku belajar menuangkan segalanya dalam sebuah tulisan. Dan kau pasti bisa menebak kenapa aku menyesal. Semuanya membawaku pada kenyataan aku menulis apa yang sementara ku tulis sekarang.

Oh, 20 menit ternyata berjalan begitu cepat. Waktuku hanya 10 menit lagi. Padahal masih banyak penyesalan yang ingin ku tuangkan. Lihat, bahkan untuk menulis penyesalanpun waktuku tak cukup. 10 menit mungkin cukup untuk menghentikan tulisanku, menutup jendela word yang kugunakan, menekan tombol ALT bersamaan dengan tombol F4 di keyboard laptop pinjaman ini, dan mengklik shut down pada jendela pilihan yang muncul.

Selanjutnya apa? Apakah aku harus berbaring? Atau duduk? Bagaimana bagusnya posisiku menjelang ajal? Ah, aku ingat sekarang, ternyata belum ada satu katapun ku tulis sebagai surat wasiat. Jika begitu, mungkin aku benar-benar harus berhenti disini agar aku bisa memakai 5 menit sisa waktuku untuk menulis surat wasiat.

Tapi sejujurnya aku belum puas dengan ending surat wasiat itu. Sungguh sia-sia aku menulis begitu panjang hanya dengan ending yang sangat tidak megah sama sekali. Tapi bagaimana ya, waktuku tak akan cukup. Apa yang harus ku lakukan?

Aku tahu! Aku melupakan kata jika dalam tulisan ini. Akukan belum tentu mati 3 menit lagi. Hahahaha… Aku bukan Tuhan yang bisa mengijinkan malaikat maut mengambil hidup seseorang. Ini hanya imajinasiku. Hanya kepaksaanku menulis topik yang sebenarnya terasa begitu menakutkan pada waktu aku memulainya. Aku penasaran, kemanakah aku bisa membawa ketikan jari-jariku menyelesaikan topik menarik ini.

3 menit telah lewat. Itu berarti 78 menit sisa waktuku telah habis. Tapi aku belum mati. Aku masih melanjutkan ketikanku. Aku belum berhenti. Ceritaku belum tamat. Aku hanya sedikit tersadar bahwa selama apapun sisa waktu hidupku, aku sama sekali tidak punya hak untuk menentukan dimana ujungnya. Aku hanya pelakon yang tidak bisa memilih kapan aku dimulai dan kapan aku diakhiri. Aku tidak bisa memilih di rahim siapa aku lahir dan kapan. Aku juga tak kuasa dengan ketiba-tibaan sang maut menjemputku. Aku hanya bisa hidup, hanya bisa memilih, tentunya selain lahir dan matiku. Menulis ini pun pilihanku. Aku memilih sedikit berani menyentuh kuasa sang empunya hidup. Dan kata “jika” menolongku dua kali. Saat aku akan memulai dan pada waktu aku harus mengakhiri.

Semua ini hanya sebuah “jika” yang aku pilih dan coba jalani. Semua “jika” yang pastinya tidak akan menjadi sesuatu yang sudah pasti. Aku ada sekarang hanya karena semua “jika” yang kutuliskan tadi tatap menjadi jika dan tidak berubah nyata.

Akhirnya aku menghakhiri tulisanku dengan kata jika.

jika

Nov 14, 2009 - sahabat    Comments Off

Sahabatku idolaku [sebuah proses persahabatan] ~ bagian kedua

… … …

Tes masuk SMU mungkin merupakan titik tolak pergerakan proses persahabatan kami. Aku bergantung sepenuhnya pada kepintarannya saat tes akademik berlangsung. Kecurangan memalukan yang terjadi namun berdampak sangat indah dalam persahabatan kami.

Kembali kami satu sekolah, malah satu kelas selama 3 tahun. Komunikasi  kami semakin padat. Dari sekedar tanya jawab basa basi,berkembang pada pembicaraan-pembicaraan lumayan intim dengan pembahasan tentang imajinasi yang saat itu bertengger di otak kami. Diskusi-diskusi kecil masalah lagu, buku, cerpen, skenario drama, sampai pada topik pacar, secara perlahan semakin mendekatkan hubungan kami.

Sekali lagi aku lupa dari mana dimulainya kedekatan kami. Yang ku ingat hanyalah sikap saling membutuhkan pada caturwulan ketiga di kelas satu. Kami berdua kemana-mana bersama. Tidur bersama, makan bersama, mandi bersama. Aku lupa lagi memberitahumu ternyata. Kami berdua menuntut ilmu di sekolah yang berasrama. Hal itu memungkinkan kami untuk melewati hari dengan segala kedekatan. Dari pembicaraan tanpa unjung sampai berdiam diri hanya menatap langit mewarnai suasana saat itu.

Tapi ternyata segala kedekatan kami begitu mengganggu bagi beberapa orang. Teman-teman satu ruangnya tidak suka dengan apa yang berjalan. Segala alasanpun tercipta. Doktrinpun turun dari keputusan ruang dengan suara bulat. Dia harus memilih. Aku atau teman-teman satu ruangnya. Ya, saat itu aku sadar bahwa mungkin aku yang tidak pantas berjalan bersamanya. Dia sang juara kelas dan aku yang terlihat begitu masa bodoh dengan sekolah. Dia yang taat aturan dan aku yang pembangkang. Akupun sangat mengerti dan mundur perlahan dengan keputusannya. Sudah jelas siapa yang dia pilih. Dan pastinya bukan aku. Anehnya, tidak ada dendam saat itu meskipun muncul secuil kecewa. Setidaknya aku sangat sadar bahwa saat itu aku sangat tidak pantas dijadikan pilihan.

Hubugan kami tidak se anjlok yang kamu pikirkan. Tegur sapa tetap berjalan, cerita-cerita ringan tetap bergulir, sedikit curhat tetap ada, dan canda tawa tidak hilang begitu saja. Lucu memang, dengan keputusan seperti itu biasanya sebuah hubungan akan memburuk bahkan mati. Tapi yang terjadi diantara kami malah sebaliknya. Keajaiban persahabatan, ku sebut demikian istilahnya.

Aku menggolongkannya ajaib karena pada akhirnya oknum-oknum yang begitu gencarnya memisahkan kami dulu, belakangan berubah wujud menjadi sosok yang juga kupanggil sahabat. Orang-orang hebat yang tetap berdiri disampingku hingga saat ini. Sahabat-sahabatku yang juga sahabat-sahabatnya.

Memasuki tahun ke dua di SMU, hubungan kami perlahan menjadi intim kembali. Cerita-cerita yang dulu tertunda mendapatkan kepingannya kembali. Aku kembali dekat dengannya beriringan dengan kedekatanku dan mereka yang pernah memaksa kami “berpisah”. Ku sebut ini ironis yang membahagiakan.

Namun tahukah kau, bukan pada masa itu kami menjadi sangat dekat. Bukan pada kebersamaan kami kedekatan itu semakin besar. Kelulusan SMU membuat kami berjarak. Aku melanjutkan kuliah ke luar daerah dan dia tetap disana. Aku melangkah dengan mantap namun berat karena dua sahabatku begitu bergumul dengan dimana mereka akhirnya akan kuliah. Semahal apapun harga komunikasi pada saat itu, aku pasti menyempatkan diri melakukan sambugan langsung jarak jauh di warnet dekat kosku.

Untunglah teknologi komunikasi nirkabel sedang giat-giatnya dikembangkan. SMS pun menjadi pilihan cara kami berkomunikasi. Persahabatan tetap berjalan bahkan semakin erat.

Tidak cukup dengan itu, surat-surat elektronik menjadi pilihan selanjutnya ketika sebuah cerita terlalu panjang untuk dijabarkan lewat sms. Surat dengan kertas dan tulisan pena pun tak terlewatkan.

Pada akhirnya aku lebih sering bercerita masalah-masalahku padanya dari pada sahabat-sahabatku disini. Semua ku ceritakan, hampir tak ada yang terlewati. Bahkan ada kisah yang hanya kuceritakan padanya. Jika ada orang mengeluh tentang jarak yang menawarkan rasa sebuah persahabatan, maka akulah orang pertama yang akan membantah teori itu. Segala sesuatu semakin terbuka malah pada saat kami terpisah.

Saat inipun kami masih terpisah. Tapi aku berani bertaruh, akulah yang paling tau kondisinya saat ini. Dialah yang sangat paham posisiku saat ini. Bukan berarti sahabatku yang lain tidak tau apalagi tidak peduli, tapi untuk ukuran dua orang yang terpisah jarak ribuan mil, aku tau terlalu banyak tentang dirinya, begitupun juga dia.

Perjalanan persahatan kami akhir-akhir ini malah semakin bergelombang. Semakin kenal, semakin susah bersembunyi dari kepalsuan. Aku semakin tidak bisa berdusta apalagi berpura-pura di depannya. Yang jelas perjalanan kami masih berlanjut. Cerita-cerita kami belum putus. Proses saling mengenalpun belum pada ujungnya. Masih banyak yang menunggu di depan untuk kami hadapi. Janji-janji bersama, harapan-harapan dan mimpi yang masih menggantung, dan doa yang belum berhenti terpanjat masih kami jalani dengan tetap menjadi diri sendiri. Akupun yakin, proses ini tidak ada ujungnya. Sebuah persahabatan tidak ada akhirnya. Aku dan diapun masih menikmati proses kami dan semakin tuanya bumi ini. Hanya berharap pada umur panjang agar kami bisa bertatap kembali dalam satu ruang dan waktu yang sama.

O ya, kamu mungkin bertanya-tanya “terus, apa hubungannya semua ini dengan judul sahabatku idolaku?”. Jelas aku mengidolakannya. Bukan hanya sekedar karena kemampuan mengolah otaknya ku golongkan sebagai sesuatu yang jenius. Tidak sebatas ketakjubanku melihat dia menyelesaikan deret angka yang selalu berhasil membuat banyak orang angkat tangan. Tidak sedangkal aku mencintai caranya berpuisi. Tidak setipis kekagumanku pada kemampuannya belajar otodidak dengan sangat baik. Tidak semurah keherananku mengamati kemampuan menghafalnya yang kadang-kadang terasa tidak masuk akal. Tidak sesederhana pengakuanku akan kemampuan mengaktualisasikan dirinya yang terlihat begitu gampang di mataku.

Aku, sahabatnya ini, mengaguminya karena keseluruhan dirinya. Lebih dan kurangnya. Aku, selalu kagum dengan segala cara yang dilakukannya. Aku kagum pada semangat mempertahankan persahabatannya. Aku bangga akan setiap keputusannya. Dan aku sangat bersyukur bisa bersahabat dengannya. Ku rasa cukup alasanku mengidolakan sahabatku itu. Dia dan seutuh dirinya, aku menyayangi semuanya.

Proses ini tetap abadi. Tanpa ujung, dan pastinya akan menebarkan benih yang baru untuk masa selanjutnya. Bahkan ketika maut memisahkan raga dari jiwanya, aku yakin persahabatan kami akan tetap ada dengan wujud yang lebih agung lagi.

Kau, sahabatku, kau tau sebesar apa aku menyayangimu…
3ipa1

Nov 14, 2009 - sahabat    Comments Off

sahabatku idolaku [sebuah proses persahabatan] ~bagian pertama

Hampir 20 tahun aku mengenalnya. Taman kanak-kanak menjadi awal mula persahabatan kami. Aku lupa bagaimana ceritanya hingga kami bisa berkenalan. Ingatanku pada masa itu tidak banyak yang terbayang jelas. Hanya beberapa lembar foto dan sepenggal kisah yang kuingat jelas.

Untuk beberapa tahun setelahnya, aku sama sekali tidak menganggap penting foto-foto kami. Sekolah yang berbeda menjadi penyebab utama kerenggangan hubungan kami. Pesatnya perkembangan kinerja otak kami menjadi salah satu pendukung renggangnya hubungan kami. Aku bertumbuh dengan segala caraku dan dia bertumbuh dengan segala prestasinya.

Enam tahun kira-kira waktu yang kami lewati tanpa bertutur kata. Namun bukan berarti aku lupa padanya. Sosoknya tak pernah terhapus sedikitpun dari ingatanku. Apalagi selama masa itu kami sering kali bertemu sebagai rival di lomba-lomba antar sekolah.

Aku selalu menatapnya dari jauh hanya untuk membangkitkan sedikit kenangan kami yang semakin lama semakin kabur dari ingatanku. Kadang-kadang terbesit rasa sesal ketika menyadari bahwa hubungan kami tidak seperti dulu lagi. Jujur aku malu untuk menegurnya lebih dulu. Dalam pikiran anak-anakku, aku menganggap dia tak ingat lagi padaku. Akan sangat memalukan jika aku menegurnya dan ternyata dia tidak ingat siapa aku.

Rasa minder dan tidak percaya diri mendekatinya merajai pikiranku sampai aku kelas 6 SD. Dia semakin terkenal dengan prestasinya, sedangkan aku semakin tertinggal dibelakangnya. Aku tidak ingat ada lomba antar sekolah yang tidak diikutinya. Lomba mata pelajaran, siswa teladan, dokter kecil, lomba senam SKJ, lomba tata upacara bendera, fashion show, lomba baca puisi (aku selalu takjub dengan caranya membaca puisi), dan entah lomba apalagi yang pernah diikutinya.

Rasa minder itu lama kelamaan berubah menjadi rasa iri. Perasaan tidak mau kalah pada waktu itu menjadikanku selalu bersikap apatis padanya. Aku menganggapnya anak yang sombong dengan tatapan mata yang menjengkelkan. Pertahanan diriku untuk tidak jatuh wibawa di depannya membuatku terpaksa membangun benteng sekuat-kuatnya dan memusuhinya karena keserbabisaannya itu.

Kejeniusannya sudah lama ku ketahui sebenarnya. Tapi aku tidak menyangka sama sekali bahwa bangku SMP membuatku ketinggalan jauh darinya. Aku yang begitu pemalas dan tidak suka aturan membuat jalan kami begitu berbeda. O ya, aku lupa memberitahumu kalau kami satu sekolah saat SMP.

Tidak ada yang berubah dari hubungan kami pada tahun-tahun pertama. Aku jelas tidak termasuk dalam daftar temannya. Pastinya akupun demikian, tidak ada namanya dalam daftar temanku. Aku bahkan tidak suka dengan beberapa sifatnya. Tak jarang aku membicarakan sesuatu yang jelek dibelakangnya. Dia dengan kepintarannya yang terlihat begitu angkuh dimataku, dia dengan segala kreatifitasnya yang terlihat begitu berlebihan dimataku, dia dengan segala perbedaan selera denganku yang terlihat begitu aneh dan tidak masuk akal dimataku, dia dengan segala dunianya yang tak kumengerti dan aku dengan segala duniaku yang belakangan agak ku sesali karena justru aku yang sangat berlebihan pada waktu itu.

Caturwulan ketiga kelas satu aku mulai memperhatikannya lagi. Hal konyol yang menyebabkan itu adalah kedekatanku dengan seorang cowok yang belakangan akhirnya menjadi pacarku. Berita yang ku dengar waktu itu, dia adalah cewek yang begitu gencarnya di kejar-kejar mantan pacarku. Ya, mantan pacarku, karena hubungan kami hanya bertahan 3 hari. Ah, bagian ini pasti membuatnya tertawa. Aku lupa siapa sumbernya, tapi yang ku dengar, mantan pacarku itu adalah cinta pertama sahabatku. Hahahahaha…

Aku lupa kapan kami mulai bertegur sapa lagi. Apalagi pembicaraan diantara kami hanya sebatas tanya jawab tidak penting dan basa-basi. Yang ku ingat jelas hanya peristiwa begitu lancangnya aku berkunjung ke rumahnya pada ulang tahunnya yang ke 13 tanpa diundang. Aku tetap datang hanya karena ikut rombongan teman-teman satu kelasnya yang kebanyakan akrab denganku. Ya, dia kan tidak mungkin mengusirku meskipun jengkel setengah mati melihat kehadiranku.

Dari situ sebenarnya aku mulai melihat sisi yang lain dari dirinya yang selama ini tertutup dengan paradigma negatifku. Aku mulai melihat keramahan sekalipun aku masih menjaga jarak. Akupun mulai tidak membiarkan pikiran negatifku mendominasi penilaianku tentangnya. Aku mulai mendapatkan kembali sosok dirinya saat pertama kali kami berkenalan. Tatapan matanya yang selalu menggangguku perlahan terlihat hangat. Tuturnya yang tidak pernah nyaman ku dengar mulai terasa empuk ditelingaku. Dan aku mulai menyadari bahwa aku mulai nyaman berada disampingnya.  Sahabat masa kecilku mulai menampakkan diri dalam sosok yang lebih dewasa. Proses inipun baru saja dimulai…

… … …

Nov 4, 2009 - hidup    Comments Off

Menunggu

menunggu

Untuk hal yang satu ini kadang-kadang aku lebih suka tetap begitu adanya. Maksudnya apa yang ditunggu tidak juga datang. Tidak selamanya menunggu itu sesuatu yang membosankan apalagi berkonotasi negatif.

Hidup sebenarnya hanya seputar proses menunggu. Setiap orang yang sadar sementara menjalankan sebuah proses pasti juga berada dalam tahap menunggu. Menunggu hasil dari proses itu, menunggu ujung jalan yang sementara dilalui, menunggu kepastian maupun penyangkalan diri terhadap ketidakpastian yang sudah pasti.

Proses adalah menunggu. Menunggu adalah proses. Salah satu tatanan sistem di bumi ini yang tidak bisa dielaki setiap manusia.

Sayangnya dalam setiap kegiatan menunggu selalu melekat kata sabar. Kesabaran selalu menjadi bayang-bayang dalam setiap proses, dalam setiap menunggu. Sabar tidaknya manusia dalam menunggu selalu mempengaruhi hasil akhir dari proses tersebut. Jadinya terkait lagi satu kata dalam menunggu. Takdir.

Setiap takdir kehidupan selalu diatur oleh sebuah keputusan. Keputusan untuk tunggu atau pergi, iya atau tidak, ambil atau buang, dan segala macam kontradiksi yang ada. Berarti menunggu juga akan mempengaruhi takdir seseorang [itu jika percaya takdir bisa berubah, tidak statis].

Menunggu paling hakiki dari sebuah kehidupan hanya ada satu. Menunggu kematian. Dari hidup, menunggu juga ternyata menggerogoti kematian. Setiap hidup hanya sebuah proses menunggu ujungnya, kematian. Nafas terakhir. Tidak ada kesempatan lagi. Jadi sampai ujungpun, menunggu tetap eksis bahkan pada saat kematian menghampiri.

Tulisan inipun menunggu akhirnya dimana. Ujungnya dimana. Kapankan penulisnya berhenti menggerakan jarinya? Sekarang, mungkin….

Oct 4, 2009 - hidup    6 Comments

Lesbian

lesbian

Sama sekali tidak ku sangka kejadian malam itu. Aku “bertemu” teman lamaku di facebook. Aku langsung semangat 45 karena ingin menanyakan kabar yang seorang lagi. Ternyata berita yang ku dengar malam itu [sekalipun tidak terlalu mengejutkanku] termasuk berita yang maknanya dalam.
Temanku itu mengaku kalau dia seorang lesbian [karena dia bicara terang-terangan, maka aku berani juga menulis terang-terangan]. Dari gayanya sih memang terlihat sangat laki-laki. Dari saling membalas komentar di statusnya, kami beralih ke sms-an. Yang menjadi menarik disini bukanlah karena betapa mengejutkannya kabar itu,tetapi rasa rendah diri yang tersirat dibalik kata-katanya saat mengirimkan sms untukku.
Dia bicara begitu jujur tapi tetap masih dibebani ketakutan dan khawatir aku akan menjauh bahkan menghinanya. Dia sampai mengeluarkan kata “plissss dont hate me” ketika memberitahukan yang sebenarnya padaku. Aku dengan entengnya membalas smsnya dengan kata-kata “santai sist…”. Kebetulan memang aku bukan termasuk golongan yang anti kaum lesbian. Jadi, ya, komunikasi tetap berjalan lancar.
Ok, kita abaikan sejenak pengalamanku itu. Aku tergelitik untuk menulis sesuatu yang masih dianggap tabu dan terkutuk bagi sebagian besar orang. Aku mau sedikit menuangkan sudut pandangku terhadap kata ini. Lesbian.
Menurutku semua manusia diciptakan tidak hanya dengan satu kecenderungan sifat jenis kelamin. Bisexual. Hermaphrodite. Jika tidak demikian, menurutku, tidak akan ada yang namanya persahabatan, sisterhood, brotherhood, sabahat karib, atau apalah yang diartikan sebagai perkumpulan sesama jenis yang saling menyayangi dan menghargai satu sama lain. Padahal kedua kata tadi [Bisexual, Hermaphrodite] diartikan dengan sebutan banci pada sebuah kamus bahasa inggris yang kupakai.
Sebenarnya aku tidak setuju dengan itu. Adakah dari kita yang ingin disebut banci? Padahal begitu kasarnya konotasi kata itu dalam kehidupan berlingkungan. Tapi jika pengertian menurut kamusnya seperti itu, aku bisa sedikit berpendapat bahwa manusia = makhluk bisexual / hermaphrodite = banci. Berarti manusia = banci.
Dari jabaran seperti itu aku malah tersadar bahwa bukan hanya karena masalah kelamin dan hormon yang menempatkan manusia pada kategori banci, tapi martabat manusia sendiri yang menambah kokoh eksisnya label banci itu. Rakus yang merupakan sifat dasar manusia berperan penting dalam hal ini.
Jadi harusnya jika kita semua sadar dengan kebancian kita, aku yakin tidak akan ada manusia-manusia yang selalu meresa diri benar hanya karena seakan-akan berada di jalan yang benar dengan menyukai lawan jenis dan memandang rendah manusia hebat yang tidak malu mengakui kebanciannya dengan menetapkan jalan pada kecintaan sesama jenisnya.
Sekalipun lesbian bukan jalanku dan agamaku memandangnya sebagai dosa, tapi aku sendiri sangat tidak berhak menghakimi mereka apalagi berusaha menggurui mereka. Dosa atau tidak, benar atau salah, aku rasa tidak ada yang bisa menanggungnya kecuali diri sendiri. Akrab dengan lesbian tidak akan menularkan dosa -jika itu disebut dosa- kepadaku pada saat aku tetap pada jalanku.
Akhirnya janjiku bertambah satu lagi. Tolong diingat, aku, dengan seluruh kesadaranku, berjanji, tidak akan memandang diri lebih suci dari pada seorang lesbian apalagi sampai menghina dan menghakiminya. Semoga tetap begitu.

Sep 29, 2009 - hidup    Comments Off

Maaf

maaf
Kata yang tidak pernah mudah dan selalu saja sulit untuk diucapkan bahkan didengarkan. Tidak ada pihak yang lebih nyaman ketika mengahadapi kata ini. Yang mengucapkan dan yang mendengarkan.
Ketika kata maaf harus nyata dalam sebuah sikap pastilah yang terjadi sebelum itu adalah sebuah kesalahan. Jika demikian berarti ada yang telah tersakiti.
Yang aku tahu, tidak ada alasan yang cukup kuat yang bisa menemani kata maaf. Selogis apapun itu akan terbantahkan hanya oleh sebuah perasaan tidak enak. Perasaan tersakiti adalah yang paling sulit dilewati ketika berhadapan dengan kata maaf. Penyembuhan hati pada saat melewati proses kemaafan itu kadang-kadang menghabiskan seumur hidup seseorang. Usaha memperbaiki sebuah hubunganpun tidak akan lebih mulus dari proses maaf memaafkan.
Jadi adakah sebuah titik saja yang bisa kita maknai untuk sebuah kata maaf jika sebegitu sakitnya jalan yang harus terlewati untuk proses itu?
Bagiku, maaf hanyalah sebuah jembatan yang harus sama-sama dibangun oleh yang meminta dan yang menerima.
Semoga dia juga masih mau membangun jembatan kita…

Sep 26, 2009 - sahabat    2 Comments

Persahabatan

Aku adalah manusia pecandu kata sahabat. Persahabatan akan menjadi segalanya bagiku jika saja aku tidak ber-Tuhan. Eksistensi diriku hanya bisa di ukur oleh yang ku sebut sahabat. Segala kepalsuan yang sengaja ku edarkan pada dunia tidak ada apa-apanya pada saat aku ditatap sahabatku. Keegoisan dalam diripun akan dengan mudahnya menguap ketika sosok sahabat berdiri di hadapanku.
Aku penggila kata sahabat. Fanatik dengan kata itu. Menjunjung tinggi makna di dalamnya. Tidak berhenti menggali kaitan-kaitan yang melekat di tepiannya. Sampai pada tahap tetap percaya pada kata itu meskipun telah berkali-kali hampir menghancurkan jiwaku.
Sahabat. Manusia yang telah ku sebut sahabat, padanya aku rela berbuat apa saja. Aku bahkan rela menukar apa saja yang ada padaku untuk sesuatu yang remeh ketika dia menginginkannya setengah mati. Dan aku begitu benci diriku pada saat tidak dapat berbuat apa-apa.
Aku selalu menikmati rasa sakit dan sesak bahkan lelah ketika melakukan sesuatu untuk sahabatku dengan mengorbankan sesuatu dari diriku.
Bagiku, ketika seseorang telah menikmati esensi dari sebuah persahabatan, maka tidak akan ada jiwa yang terlalu rapuh jika berhadapan dengan pengkhianatan dan kekecewaan. Hubungan yang tidak mempersoalkan pertalian darah tapi seringkali lebih lekat daripada persinggungan gen.
Tidak adanya batasan dalam persahabatan membuatnya selalu kaya dan selalu cukup untuk dinikmati seluruh dunia. Tulisan inipun hanya secuil rangkaian kata yang berusaha disusun untuk menghargai kata itu. Kata yang selau bisa menyihirku tidak akan pernah menjadi benar-benar indah jika hanya menjelma pada post sebuah blog. Hidup dan jiwa manusialah yang mampu menyelami segala sudut dari persahabatan.
Pengakuanku: aku selalu siap mengalirkan darah untuk sahabat-sahabatku. Mereka yang ku sebut sahabat pasti sangat mengerti apa yang kumaksudkan.
Persahabatan, sesuatu yang tidak ada matinya…

friendship evergreen

Sep 26, 2009 - hidup    Comments Off

Kenangan

kenangan

Satu hal yang pasti sangat berkaitan dengan kenangan adalah ingatan. Begitu susah sebenarnya menuangkan isi pikiran tentang sebuah kata “kenangan”. Bisa menjadi terlalu luas untuk dibahas. Sampai-sampai mungkin tidak ada pengarang novel yang tidak menyertakan unsur kenangan dalam ceritanya.
Anehnya, kejadian buruk tidak selalu menjadi kenangan buruk dan peristiwa bahagia kadang-kadang malah membuat seseorang bersedih ketika mengingatnya. Itulah kenangan. Meskipun datang dari sesuatu yang lampau tapi tetap dipengaruhi oleh apa yang kita alami saat ini. Menangis dan tertawa selalu menempel pada kata itu.
Akhirnya tidak ada pemaknaan paten dalam menyelami kata itu. Kenangan. Selalu bergantung pada jiwa masing-masing manusia. Selama manusia masih bernafas, kenangan akan selalu mengekor, tetap tercipta meskipun kita tidak ingin. Kenangan tidak akan digolongkan dalam 2 sisi [baik dan buruk] ketika jiwa dan hati manusia mampu menjadi penengah antara kemarin,hari ini, dan besok. Hanya ada satu kenangan yaitu masa lalu. Hari ini pun akan secepatnya berubah menjadi kenangan pada saat esok tiba di depan mata dan menjadi hari ini.
Begitulah kira-kira kenangan ketika berusaha eksis dalam kehidupan manusia. Selalu siap mengekor dibelakang dengan tidak sabar menerobos kedepan. Tulisan ini pun sebentar lagi akan menjadi kenangan. Dan jangan sekali-kali bersembunyi dari kenangan, kita tidak akan bisa. Manusia hari ini ada karena kemarin telah menjadi kenangan. Nikmatilah jiwa yang memeluk kenangan untuk bisa meraih hari ini dan melangkah pada sebuah esok.

Sep 23, 2009 - sahabat    Comments Off

Rumah

Aku termasuk orang yang tidak keberatan jika harus dikategorikan orang kampung. Aku malah bangga dengan sebutan itu. Aku memang lahir dan tumbuh bukan di kota besar. Malah jika dilihat ke belakang, ternyata aku tidak pernah menjalani hidupku di kota besar. Namun bukan berarti aku tidak pernah menginjakkan kaki di kota besar. Aku suka jalan-jalan. Termasuk jalan-jalan ke kota besar. Tapi aku tidak pernah tinggal menetap di kota besar.
Sejak SMA, aku sudah tidak tinggal di rumah orang tuaku lagi. Sekolah berasrama adalah pilihanku. Ketika kuliah pun aku tidak memilih universitas di kotaku. Aku hijrah ke pulau yang katanya sudah sangat padat. Kedatanganku pastilah menambah kepadatan pulau ini. Jawa Tengah. Sekali lagi, kota kecil. Salatiga.
Perantauanku ini ternyata berdampak lumayan dalam dikehidupanku. Perbedaan budaya yang begitu kental menjadikanku manusia yang berada di tengah 2 kebudayaan. Begitu aku sadar, aku telah terlanjur cinta pada pulau yang padat ini. Aku tidak tahan berjauhan lama dengan kotaku.
Bukan berarti aku tidak lagi mencintai kampung halamanku. Tapi ternyata separuh jiwaku tertambat di kota kecil salatiga. Sering aku merindukan kampung halamanku. Merindukan rumahku, rumah orang tuaku. Aku malah sering sekali merindukan teman-temanku di sana. Aku juga telah berjanji pada diriku sendiri untuk kembali pada kampungku dan dengan setapak bergerak membangun tanah kelahiranku.
Dengan cinta yang sedemikian besar kepada kampung halamanku, aku tetap tidak bisa berpaling dari kotaku salatiga. Apakah ini hanya gejolak masa mudaku ataukah aku sudah kehilangan sebagian rasaku pada apa yang dimaknai dengan sebutan “rumah”?
Secara finansial aku belum memiliki sebuah rumah [bangunan di atas tanah yang bersertifikat atas namaku sendiri]. Di kampungku yang ada hanya rumah orang tua, sedangkan di kotaku yang ada hanya rumah kontrakan. Mungkin ini yang menjadikanku mengalami krisis integritas dengan apa yang disebut “rumah”.
Kata pepatah, rumah adalah tempat di mana hati kita selalu pulang. Salatiga adalah kota tempat hatiku selalu ingin pulang. Tapi aku tidak kehilangan rasa cintaku pada tanah kelahiranku. Aku juga tidak bisa egois menyebut 2 tempat bersejarah buatku itu sebagai rumahku semua.
Aku tidak ingin mendua dalam hal apapun kecuali persahabatan[semua orang bisa memiliki berapapun sahabat dalam hidupnya]. Aku hanya manusia yang mempunyai satu sosok. Akupun menempa diriku untuk selalu menentukan satu pilihan pada apapun yang ditawarkan hidup padaku. Dan aku selalu bingung ketika harus memilih di mana “rumahku” sebenarnya berada. Aku tidak ingin berkhianat juga tidak mau menyangkal kata hati dimana dia selalu ingin pulang. Ataukah aku harus menambah pengecualianku untuk idealisme menduaku? Atau bisakah beri aku waktu untuk menentukan pilihanku? Tidak sekarang harus kujawab. Tidak dalam waktu dekat ini. Agar hatiku benar-benar bisa memilih apa yang paling diinginkannya.

Sep 14, 2009 - hidup    Comments Off

TIDAK MAKAN DAGING DIHARI JUMAT

Indonesia hanya mengekor Amerika dan China dalam emisi gas rumahkaca! Suatu kajian yang diterbitkan oleh World Bank dan pemerintah Inggris – http://www.worldbank.org/indonesia – menunjukkan bahwa tingginya ranking Indonesia terutama disebabkan tingkat pembabatan hutan yang tinggi, sekitar 85 persen (2.563 juta ton ekuivalen karbon dioksida [MtCO2e]) dari total emisi (3.014 MtCO2e) hasil dari kebakaran dan pembabatan hutan. Jumlah emisi dari energi, pertanian dan sampah hanya 451 MtCO2e – http://news.mongabay.com/2007/0326-indonesia.html.

Indonesia merupakan salah satu negara yang lingkungannya paling kaya akan keanekaragaman hayati di Bumi ini. Keanekaragaman laut Indonesia adalah yang tertinggi di dunia dan merupakan hutan kawasan terbesar kedua setelah Hutan Amazon. Namun demikian, karena dampak dari daging terhadap lingkungan, bukan hanya negara kita berada di ambang bahaya tapi lahan kita yang tak ternilai juga mengalami dampak dari peternakan hewan. Sehingga penting bagi kita untuk mengurangi pemakaian produk yang sarat karbon sebagai solusi efektif terhadap krisis perubahan iklim. Petisi ini meminta pemerintah Indonesia untuk segera mengambil tindakan dengan menerapkan “Jumat Tanpa Daging” untuk setiap hari Jumat, yang juga merupakan hari suci bagi umat Muslim menjalankan ibadah sholat Jumat, dan mempromosikan manfaat lingkungan dan kesehatan yang baik bagi masyarakat terhadap gaya hidup vegetarian murni (vegan).

MENGAKHIRI KELAPARAN DUNIA

Jika Anda ingin menghentikan 1 miliar orang dari kelaparan setiap harinya; jika Anda ingin menghentikan kematian sia-sia yang terjadi setiap 5 detik yang disebabkan kelaparan maka gaya hidup vegan merupakan solusi terhadap situasi kesengsaraan ini karena tidak efisiennya pemakaian sumber alam. Biji-bijian yang sekarang dipakai untuk pangan ternak sebenarnya cukup untuk konsumsi 2 miliar orang. Sesuai dengan laporan terbaru dari Compassion in World Farming, “Hasil panen dapat dipakai untuk konsumsi langsung manusia yang kelaparan tapi malah dipakai untuk menggemukkan hewan ternak yang kemudian dibunuh untuk makanan manusia.” Memerlukan 16 pounds biji-bijian untuk memproduksi 1 pound daging hewan.

Kami menghimbau setiap orang untuk memberikan dukungan dalam mendorong masyarakat dan pemerintah Indonesia untuk menerapkan dan mempromosikan “Jumat Tanpa Daging”.

Mari ikut tandatangani petisi ini dan teruskan kepada teman-teman dan keluarga Anda.

Petisi ini meminta pemerintah Indonesia untuk mengambil tindakan segera dengan menerapkan “Jumat T

anpa Daging” dan mempromosikan manfaat lingkungan dan nilai-nilai kesehatan dari gaya hidup vegetarian murni (vegan) kepada masyarakat luas.

elephant

PERANAN PETERNAKAN DALAM PEMANASAN GLOBAL SANGAT BESAR

Sesuai laporan 2006 oleh Organisasi Pertanian dan Pangan dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO), yang berjudul “Lovestock’s Long Shadow” : Laporan FAO menemukan bahwa produksi peternakan menyebabkan 18 persen dari seluruh emisi gas rumahkaca, termasuk sembilan persen dari seluruh emisi karbon dioksida, 37 persen dari gas metana dan 65 persen nitrous oksida yang 296 kali lebih dahsyat dibandingkan CO2 sebagai gas penyebab pemanasan global. Menurut Dr. Kirk Smith, anggota dari Badan PBB – Panel Perubahan Iklim Antarpemerintah (IPCC) dan profesor dari University of California-Berkeley, metana adalah 100 kali lebih dahsyat daripada CO2 dalam waktu 5 tahun setelah diemisikan.

Para ilmuwan di seluruh dunia telah mengakui bahwa perubahan iklim berlangsung demikian cepatnya, kehidupan bermasyarakat manusia berada di ambang batas ancaman jika kita tidak melakukan sesuatu dalam rentang waktu sekian tahun ke depan yang dengan secara cukup berarti mampu membalikkan kecenderungan laju pemanasan global. Pada waktu yang bersamaan, para peneliti juga menyadari bahwa meskipun CO2 adalah gas yang paling mendominasi berdasarkan berat, meskipun jika kita bisa mencapai ekonomi nil karbon hari ini, Bumi akan tetap terus memanas hingga seratus tahun bahkan bisa mencapai seribu tahun.

Sebuah kajian dalam tahun 2008 menyimpulkan bahwa produksi sebanyak 2.2 pound daging sapi akan menyebabkan jumlah yang sama dalam emisi karbon dari rata-rata mobil Eropa yang melakukan perjalanan hingga 155 mil. Jumlah energi yang terpakai cukup untuk mennyalakan 100watt lampu listrik selama hampir 20 hari.

Penerima Nobel, Dr. Rajendra Pachauri, kepala dari Badan PBB – Panel Perubahan Iklim Antarpemerintah (IPCC) menyatakan, “Harap kurangi makan daging, daging adalah komoditas yang paling sarat karbon….” “Tindakan satu-satunya yang seseorang dapat lakukan guna mengurangi emisi karbon adalah vegetarianisme.”

Dr.James Hansen – Ahli Iklim Terkenal NASA
“Ada banyak hal yang dapat dilakukan guna mengurangi emisi karbon, namun mengganti bola lampu dan banyak hal lainnya terlalu sedikit manfaatnya dibandingkan dengan mengubah diet Anda, karena jika Anda mengonsumsi ke dalam suatu mata rantai makanan yang lebih bawah selain hewan yang memproduksi banyak gas di rumahkaca, dan mempergunakan banyak energi dalam proses menggemukkan daging tersebut, maka Anda sesunguhnya dapat membuat kontribusi yang besar dengan mengubah diet Anda dibandingkan dengan berbagai tindakan lainnya. Jadi, itu hanya dalam persyaratan tindakan pribadi, mungkin itu adalah tindakan terbaik yang dapat Anda lakukan.”

Untuk alasan ini, jika kita ingin melindungi Bumi kita bagi generasi anak-anak kita berikutnya, kita perlu mengurangi sumber-sumber gas dan aerosol ini yang menyebabkan dampak paling besar dalam pemanasan global secara jangka pendek, sehingga memberikan kita waktu untuk mengembangkan teknologi pengurang CO2 yang bisa diperdayakan secara komersial.

MOHON PERTIMBANGKAN BEBERAPA RINGKASAN INI SEBAGAI REFERENSI ANDA DALAM PENGURANGAN DAGING DI DUNIA

Kota Ghent, Belgia telah menujukkan sifat kepemimpinannya dan mengakui pentingnya mempromosikan vegetarianisme sebagai solusi terhadap perubahan iklim dan mengurangi jejak emisi karbon dengan meminta warganya menjalani satu hari dalam seminggu tanpa daging. http://news.bbc.co.uk/2/hi/europe/8046970.stm

Negara dan institusi lain juga mengakui perlunya mempromosikan vegetarianisme murni (veganisme). Pelayanan Kesehatan Nasional Inggris (NHS) akan mengurangi daging dan produk-produk susu dari menu di rumah-rumah sakit di Inggris sebagai suatu upaya memotong biaya dan karbon. Ini merupakan satu bagian dari strategi rumah sakit NHS guna mengurangi emisi karbon melalui sistim operasional rumah sakit.

Mengikuti misi Senin Tanpa Daging oleh Paul McCartney di Inggris, restoran Israel juga ikut berpartisipasi dalam menjalani veggie untuk satu hari dalam seminggu. http://www.telegraph.co.uk/earth/5621148/Paul-McCartneys-Meat-Free-Mon day-missio n.html

http://www.ynetnews.com/articles/0,7340,L-3736884,00.html

Setiap kali Anda makan tanpa kandungan hewani, Anda menghemat 2.5 pound emisi gas rumahkaca, 25 kaki persegi lahan, dan 133 galon air. Jika Anda makan tiga kali sehari, itu akan berjumlah 2.737 pound gas rumahkaca, 26.280 kaki persegi lahan dan 145.635 galon air setahun, dan lebih banyak lagi.

Kami meminta dukungan setiap orang untuk menyampaikan keperluan ini kepada pemerintah Indonesia guna menerapkan dan mempromosikan “Jumat Tanpa Daging”.

Tandatangani dan Sebarkan – mohon sampaikan melalui email dan situs online dibawah “sign petition” link yang membolehkan Anda berbagi situs sosial dan salinan bahasa program untuk halaman web.

Beberapa petisi rekan-rekan kami dari seluruh dunia juga ada dan silahkan kunjungi situs ini untuk daftar selengkapnya dan bubuhkan tandatangan Anda di sana juga http://www.meatfreepetition.com/

_sumber, gopetition.com,edwardlontah.wordpress.com_


Sep 13, 2009 - hidup    Comments Off

PUAS

Ketika masih ingin berjalan, kita selalu dihentikan oleh kenyataan

Saat sudah ingin berhenti, kita selalu dipaksa untuk tetap berjalan

Seakan tidak ada saat yang tepat

Seolah tidak pernah ada rasa puas

Hidup terasa dicela untuk segera berakhir

Lantas, dari manakah semua akan cukup?

Dengan apakah kepuasan dapat diciptakan?

Ternyata, jika tidak ada jawabanpun,

kita tetap wajib menjalani hidup sampai akhir!

inobonto_ysw220809′bustondanogorontalo,lolak_

Pages:12»